Saturday, December 5, 2009

perbedaan folklore dan cerita rakyat

Perbedaan antara Folklore Dan Cerita Rakyat

FOLKLORE
Folklore adalah istilah umum untuk aspek material, spiritual, dan verbal dari suatu kebudayaan yang ditranmisikan secara oral melalui pengamatan atau peniruan. Folklore dapat ditemukan pada setiap masyarakat tradisional di belahan dunia manapun. Hanya bentuknya saja yang berbeda-beda. Hal itu terjadi karena adanya batas spasial dan temporal. Dua batas itu membuat folklore suatu masyarakat dengan masyarakat lainnya berbeda. Setiap folklore memiliki ciri khas masing-masing, meskipun secara garis besar folklore mempunyai satu ciri umum, yaitu milik bersama. Masyarakat Minangkabau sejak masa-masa awal kelahirannya hingga menjadi masyarakat modern seperti sekarang, memiliki folklore-nya sendiri.
Pada masyarakat tradisional, seperti masyarakat Minangkabau pada awal kelahirannya, tradisi disampaikan melalui mulut ke mulut. Cara yang paling umum dalam menyampaikan tradisi itu adalah melalui cerita-cerita, fabel-fabel, dan peribahasa-peribahasa yang diceritakan oleh orang-orang yang lebih tua kepada mereka yang lebih muda sebagai bagian dari pendidikan umum. Oleh karena itu, pada masyarakat tradisional sering terdapat anggapan bahwa jika ada orang tua yang meninggal dunia, ibaratnya ada sebuah perpustakaan besar yang hilang. Hal ini menunjukan bahwa peran orang tua sangat penting dalam meneruskan tradisi. Apalagi masyarakat tradisional masih memegang teguh teknik penyampaian tradisi lisan dari mulut ke mulut sehingga peran orang tua yang menyimpan banyak memori kolektif amat penting. Namun kemudian, seiring perkembangan waktu penyampaian tidak lagi hanya sebatas dari mulut ke mulut, tetapi juga melalui contoh yang disertai dengan perbuatan. Dari kasus ini maka lahirlah folklore.
Folklore berasal dari bahasa Inggris, yaitu folk dan lore. Dua kata itu diciptakan oleh William Thoms pada tahun 1846. Menurut Alan Dundes, seorang ahli folklore Amerika, istilah folk berarti kelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenal kebudayaan yang membedakannya dari kelompok lain berupa mata pencaharian hidup yang sama, bahasa yang sama, agama yang sama, tingkat pendidikan yang sama, dan sebagainya. Sedangkan lore berarti tradisi folk yang telah diwariskan secara turun-temurun melalui lisan atau tutur kata, ataupun melalui contoh yang disertai dengan perbuatan atau yang disebut juga alat pengingat (mnemotic device). Sementara menurut kamus Oxford Advanced Learners Dictionary of Current English 1983, folklore berarti traditional belief, tales, etc of a community (kepercayaan tradisional, cerita dari suatu masyarakat, dan sebagainya). Hal ini tentu berbeda jika kita melihat definisi folklore sebelumnya. Namun, pada dasarnya folklore adalah sebagian dari kebudayaan yang tersebar dan diwariskan secara turun-temurun dan tradisional di antara anggota-anggota kelompok apa saja, dalam versi yang berbeda-beda, baik dalam bentuk lisan, maupun contoh yang disertai perbuatan.
Folklore memiliki ciri-ciri:
a) pada dasarnya bersifat lisan dan perbuatan;
b) (b) bersifat tradisional;
c) (c) tersebar dalam versi yang berbeda-beda;
d) (d) nama pencipta suatu folklore biasanya sudah tidak diketahui lagi;
e) (e) mempunyai bentuk klise berupa ungkapan-ungkapan tradisional yang stereotip
f) (f) mempunyai fungsi atau kegunaan dalam kehidupan kelompok yang memilikinya. James Danandjaja menambahkan dua ciri lainnya, yaitu menjadi milik bersama dan bersifat polos. Dan seperti folklore pada umumnya,
Bentuk-bentuk folklore itu adalah folklore lisan
1. (bahasa rakyat,
2. ungkapan tradisional,
3. pertanyaan tradisional,
4. puisi rakyat,
5. cerita prosa rakyat,
6. nyanyian rakyat),
folklore sebagian lisan
1. Kepercayaan/takhayul,
2. Permainan/hiburan rakyat,
3. Teater rakyat, adat kebiasaan,
4. Tpacara-upacara, dan
5. Testa-pesta rakyat,




CERITA RAKYAT
Cerita rakyat dianggap yang empunya sebagai suatu kejadian yang sungguh-sungguh terjadi. Cerita rakyat bersifat sekuler (keduniawian), terjadinya pada masa yang belum begitu lampau, dan bertempat di dunia yang kita kenal sekarang. Cerita rakyat sering dipandang sebagai sejarah kolektif (folk history), walaupun sejarah itu karena tidak tertulis telah mengalami distorsi, sehingga sering kali dapat jauh berbeda dengan kisah aslinya. Cerita rakyat biasanya bersifat migratoris, yakni berpindah-pindah, sehingga dikenal luas di daerah-daerah berbeda. Selain itu legenda acapkali tersebar dalam bentuk pengelompokan yang disebut siklus (cycle), yaitu sekelompok cerita yang berkisar pada suatu tokoh atau suatu kejadian tertentu (Dananjaja, 2002:66-67). cerita rakyat kadar kebenarannya disangsikan, tetapi sangat diyakini masyarakat dan menjadi pola pemikiran mereka (Ensiklopedi Indonesia,…..:1982).
Axel Olrik (dalam Dananjaja, 2002:82) berpendapat bahwa sruktur atau susunan cerita prosa rakyat terikat oleh hukum-hukum yang sama, yang olehnya di sebut sebagai Hukum-Hukum Epos (Epic Laws). Hukum-hukum epos ini merupakan suatu superorganik, yaitu sesuatu yang berada di atas cerita-cerita rakyat, yang selalu mengendalikan para juru ceritanya (folk narator), sehingga mereka hanya dapat mematuhi “hukum-hukum” itu secara membuta. Hukum-hukum epos ini tidak dapat dikendalikan manusia. Sebagai akibat adanya “hukum-hukum” itu maka struktur cerita rakyat tertentu menjadi identik. Selanjutnya Olrik berpendapat bahwa cerita prosa rakyat dan teks nyanyian rakyat (folksong) tidak mengikuti “hukum-hukum” lain selain hukumnya sendiri. Hukum-hukum itu membatasi kebebasan pengarang kesusastraan lisan, sehingga susunan sastra lisan, jika dibandingkan dengan kesusantraan tertulis, lebih kurang bebas.
Menurut Olrik (dalam Dananjaja, 2002:82) “hukum-hukum itu adalah
a. hukum pembukaan dan penutup (the laws of opening and closing), yaitu cerita rakyat tidak akan dimulai dengan suatu aksi tiba-tiba dan tidak juga berakhir dengan mendadak;
b. hukum pengulangan (the law of repetition), yakni demi pemberian tekanan pada cerita rakyat, suatu adegan diulang beberapa kali;
c. hukum tiga kali (the law of three), yakni tokoh cerita rakyat baru akan berhasil dalam menunaikan tugas-tugasnya setelah mencobanya tiga kali;
d. hukum dua tokoh di dalam satu adegan (the lawof two to a scene), yakni di dalam satu adegan cerita rakyat, tokoh yang diperkenankan untuk menampilkan diri dalam waktu bersamaan, paling banyak hanya boleh dua orang saja;
e. hukum keadaan berlawanan (the law of contrast), yakni tokoh-tokoh cerita rakyat selalu mempunyai sifat yang berlawanan;
f. hukum anak kembar (the law twin), anak kembar di sini mempunyai arti luas, karena dapat berarti anak kembar sesungguhnya atau dua saudara kandung, bahkan dua orang yang menampilkan diri dalam peran yang sama;
g. hukum pentingnya tokoh-tokoh yang keluar pertama, dan yang keluar terakhir (the law of the importance of initial and final positition), yakni jika ada sederet orang atau kejadian yang muncul atau terjadi, maka yang terpenting akan ditampilkan terdahulu, walaupun yang ditampilkan terakhir, atau kejadian yang terjadi kemudian, adalah yang akan mendapat simpati atau kejadian cerita itu;
h. hukum ada satu pokok cerita saja dalam suatu cerita (the law of single strand), yakni dalam suatu cerita jalan ceritanya tidak akan kembali lagi hanya untuk mengisi kekurangan yang tertinggal dan jika sampai ada keterangan mengenai kejadian sebelumnya yang perlu ditambahkan, maka akan diisi dalam rupa dialog saja;
i. hukum bentuk berpola cerita rakyat ) the law of pattering;
j. hukum penggunaan adegan-adegan tablo (the law of the use of tableaux scenes), yakni adegan-adegan puncak;
k. hukum logika legenda (the law of the sage), yakni cerita rakyat mempunyai logikanya sendiri, yang tidak sama dengan logika ilmu pengetahuan, dan biasanya lebih animisme, berlandaskan berdasarkan kepercayaan terhadap kemuzizatan dan alam gaib;
l. hukum kesatupaduan rencana cerita (the law of the unity of the plot); (m) hukum pemusatan pada tokoh utama dalam cerita rakyat itu (the law of the concrentation on a leading character).
Menurut Kesimpulan saya sendiri (berdasarkan hal-hal di atas) cerita rakyat dan folklore berbeda karena dilihat dari cirinya tidak sepenuhnya sama, masih memiliki perbedaan yang menonjol, seperti folklore dapat berupa lagu,puisi,cerita prosa rakyat,dan lainnya. Sedangkan cerita rakyat adalah sebuah cerita yang berkembang disuatu tempat atau disuatu daerah. Dan cerita rakyat termasuk kedalam folklore yaitu yang disebut cerita prosa rakyat.

5 comments:

  1. very good posting,i liked it.
    thank you for this post.

    http://www.webroyalty.com

    ReplyDelete
  2. I like your posting. It is really need for our business solutions. Thanks for your posting.

    http://www.webroyalty.com

    ReplyDelete
  3. Your posting is so valuable. Thanks for your posting.

    http://www.webroyalty.com

    ReplyDelete